Malam yang gerah, panas, gersang untuk perasaan dan hatiku sekarang. Padahal suasana malam tidak seburuk hatiku. Sebenarnya malam ini sangat damai dan sejuk tapi tidak untukku. Aku merasa angin bertiup dan hembusannya membisikkan telingaku hanya untuk merayu dan membujukku. Belaiannya pada rambutku hanya untuk menggodaku. Sungguh aku benci, sangat benci. Kesal! Huh! Duduk termangu di jendela kamar dengan perasaan kesal! Benci! Marah! Yah apa lah semuanya.
“Sayang, bagaimana nak”, tanya ibuku yang tiba-tiba menghampiriku. “Pokoknya Sinta ga mau, Sinta ga suka bu. Ibu bisa ga ngerti Sinta? Kayaknya dari kemarin tuh itu-itu terus yang di omongin. Sinta bosen bu”, jelas Sinta pada ibunya dengan nada kesal tapi tetap tenang. “Nak, tapi ibu setuju sekali Sinta. Ibu sangat bahagia kalau kamu sama dia” jelas Ibu dengan wajah tenang. “Tapi kan sekarang bukan zamannya Siti Nurbaya bu. Sinta bisa kok pilih sendiri mana laki-laki yang pantas untuk Sinta”, tandas ku lagi. “Iya ibu mengerti sayang, tapi insyaallah dia bisa memimpinmu”, balas ibu lagi tidak mau kalah tapi tetap tenang. “Aku ga mau bu, Sinta mohon ibu mengerti”, kata ku sambil menangis. “Sudah malam sayang, baiknya kamu istirahat yah”, kata ibu sambil mencium keningku. Aku cemberut diam tak bergeming.